Tiga atlet para-taekwondo asal Sumatera Utara, Mian Sirait, Anthon Siloam Sianturi, dan Siti Rizqiyah Ananda, kembali membawa kebanggaan bagi daerahnya dengan meraih medali emas di Pancasila Cup 2 yang berlangsung di GOR Ciracas, Jakarta Timur, pada Sabtu (16/5). Keberhasilan ini tidak hanya membanggakan atlet individu, tetapi juga menunjukkan potensi besar atlet disabilitas di Indonesia.
Mian Sirait, yang telah berpengalaman selama sekitar sepuluh tahun di dunia olahraga disabilitas, mengungkapkan bahwa tantangan terbesarnya adalah dalam teknik bertahan, terutama saat melakukan blok. Namun, ia merasa program latihan yang diikuti setara dengan atlet non-disabilitas. “Kesulitannya hanya di bagian body contact untuk nge-block, tapi kalau di programnya, ya sama dengan orang non-disabilitas. Programnya semua dijalankan,” ungkapnya.
Anthon Siloam Sianturi juga merasakan tekanan dalam latihan. Ia menekankan bahwa porsi latihan para-taekwondo tidak lebih ringan dibandingkan atlet pada umumnya. “Kesulitannya hanya di bagian kurang tidur. Porsi tidur dan porsi latihan itu berbeda. Kalau tidur cuma lima jam, tapi latihan tiga jam dengan intensitas tinggi, performa kita ya jadi terganggu,” jelasnya.
Sementara itu, Siti Rizqiyah Ananda menuturkan bahwa gerakan blok menjadi kendala utama karena ia hanya menggunakan satu tangan. Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa menyerah bukan pilihan. “Kalau yang lain tidak ada kesulitan, hanya saat mau nge-block agak susah karena kita hanya satu tangan. Untuk yang lain, bisa sama seperti pada umumnya, latihan juga begitu,” ujarnya.
Ketiganya memulai perjalanan di taekwondo dengan latar belakang yang berbeda. Mian beralih dari cabang atletik, sedangkan Anthon memulai dari taekwondo reguler sejak SMA. “Ada perbedaan antara taekwondo normal dan para-taekwondo. Di taekwondo normal boleh memukul kepala, sedangkan di para-taekwondo tidak diperbolehkan,” kata Anthon. Selain itu, Siti sebelumnya adalah atlet tolak peluru sebelum beralih ke taekwondo demi peluang yang lebih besar.
Dalam kompetisi para-taekwondo, atlet dikelompokkan berdasarkan jenis disabilitas fisik. Anthon menjelaskan bahwa terdapat dua kelas umum, yakni K41 untuk amputasi di atas siku dan K44 untuk amputasi dari siku hingga pergelangan tangan. Mian bertanding di kelas K41, sementara Siti dan Anthon berada di kelas K44, semua berhasil meraih medali emas di masing-masing kelas.
Kontingen Sumatera Utara telah merencanakan strategi agar setiap kelas hanya diwakili satu atlet untuk memaksimalkan peluang medali. “Kami sudah memfilter agar setiap kelas hanya diisi satu orang. Tidak mau berdua di kelas yang sama agar bisa merebut emas per kelas,” jelas Anthon. Mian merasa pencapaian ini sangat berarti, terutama setelah sebelumnya hanya meraih medali perunggu di Pancasila Cup 1. “Di Pancasila Cup pertama saya masih baru dan mendapat perunggu. Puji Tuhan, di Pancasila Cup kedua ini ada progres meningkat ke medali emas,” tuturnya.
Siti, yang baru pertama kali mengikuti Pancasila Cup, juga merasakan kebahagiaan luar biasa dengan pencapaian ini. “Senang saja, baru perdana sudah bisa dapat medali emas. Sudah bisa mengikuti jejak abang-abang yang lebih senior,” ucapnya dengan penuh semangat. Keberhasilan di Pancasila Cup 2 ini tidak menghentikan ambisi mereka untuk terus berprestasi. Ketiganya memiliki target lebih tinggi untuk tampil di ajang internasional, termasuk Paralimpiade.











