Jakarta, CNN Indonesia — Isuzu Motors telah memulai evaluasi mengenai potensi merger dengan anak perusahaannya, UD Trucks, yang diperkirakan akan rampung pada Maret 2028. UD Trucks, yang resmi bergabung dengan grup Isuzu sejak 2021, diharapkan dapat memberikan sinergi yang lebih baik melalui konsolidasi ini.
Dalam penjelasannya, Isuzu mengungkapkan bahwa konsolidasi ini bertujuan untuk menggabungkan sumber daya manajemen dari kedua perusahaan. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat pengambilan keputusan serta menciptakan nilai yang lebih tinggi bagi kedua belah pihak.
Sejak bergabungnya UD Trucks, kedua perusahaan telah menjalin kerjasama operasional yang erat, terutama dalam pengembangan produk, pengaturan pasokan, kolaborasi di bidang manufaktur, restrukturisasi penjualan domestik, dan pemanfaatan sumber daya manusia secara bersama-sama.
Isuzu juga mengidentifikasi sektor kendaraan komersial yang sedang berkembang pesat sebagai salah satu pendorong utama dalam upaya integrasi yang lebih mendalam ini. Perusahaan mencatat bahwa saat ini ada banyak tantangan dalam sektor ini, termasuk kebutuhan untuk dekarbonisasi, kemajuan dalam logistik, transisi menuju kendaraan dengan perangkat lunak cerdas, serta persaingan yang semakin ketat secara global.
Untuk mempertahankan posisi kompetitif, Isuzu menganggap bahwa penguatan basis manajemen dan penataan fungsi bisnis yang lebih terkoordinasi menjadi hal yang sangat penting. Sebelum menyelesaikan proses merger, Isuzu berencana untuk berkonsultasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pelanggan, karyawan, dan mitra bisnis, serta berkomunikasi dengan otoritas regulasi yang relevan.
Pengumuman mengenai rencana merger ini disampaikan bersamaan dengan laporan keuangan tahunan Isuzu untuk tahun fiskal yang berakhir pada 31 Maret 2026. Dalam laporan tersebut, tercatat pendapatan konsolidasi mengalami peningkatan sebesar 7,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya, mencapai ¥3,47 triliun ($21,96 miliar), meskipun profitabilitas mengalami penurunan dalam semua ukuran utama.
Laba operasional Isuzu tercatat turun sebesar 11,2 persen menjadi ¥203,70 miliar, sementara laba sebelum pajak juga mengalami penurunan sebesar 5,9 persen menjadi ¥230,57 miliar. Secara keseluruhan, laba bersih mengalami penurunan sebesar 3,5 persen menjadi ¥174,61 miliar, dan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik perusahaan induk turun sebesar 3,7 persen menjadi ¥134,87 miliar.















